Sabtu, 09 Desember 2017

How's gadget changes our life

Komunikasi merupakan hal yang tidak bisa terpisah dalam kehidupan manusia sejak zaman dahulu kala. Komunikasi akan memudahkan manusia untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Sehingga, manusia menciptakan alat-alat untuk membantu manusia itu melakukan komunikasi secara lebih mudah. Pada awalnya alat komunikasi masih sangat jarang ditemui dan juga kurang efektif dalam penggunaannya namun sekarang ini alat komunikasi sangat beragam mulai dari telepon baik telepon genggam (HP) atau telepon kabel, surat, email, fax, dan masih banyak lagi tetapi bila diamati akhir-akhir ini alat komunikasi elektronik yang sangat digemari oleh seluruh kalangan masyarakat adalah handphone dan lebih spesifik lagi yaitu smartphoneSmartphone ini merupakan salah satu jenis gadget yang sangat digemari oleh masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia. Selain praktis untuk dibawa juga bisa dipakai kapanpun dan dimanapun dan juga memang sangat membantu dalam berkomunikasi. Informasi dari dalam negeri dan luar negeri juga lebih mudah diakses menggunakan gadget ini. Keadaan ini bahkan telah menjadi tren disemua kalangan mulai dari anak-anak hingga lansia, dengan hadirnya smartphone ini pengguna serasa lebih dimudahkan untuk berhubungan dengan rekan yang berada jauh dari mereka karena adanya aplikasi jejaring sosial yang sangat beragam.
Terdapat data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial, situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India. Sedangkan data dari statistik perkembangan internet di Indonesia mencapai 15% atau 38,191,873 pengguna internet dari total populasi kita 251,160,124, Sedang pengguna internet dengan menggunakan mobile/smartphone mencapai 14% dari populasi, lalu berdasarkan data statistik indikator pengguna internet di Indonesia, rata-rata waktu yang dibutuhkan pengguna internet mengakses informasi melalui PC atau laptop kisaran 5 jam 30 menit setiap harinya, persentase pengguna internet melalui mobile atau smartphone 14% dari total populasi. Sedangkan rata-rata waktu yang dihabiskan oleh pengguna internet melalui mobile atau smartphone di Indonesia sekitar 2 jam 30 menit setiap harinya. Dari data di atas dapat dilihat bahwa smartphone dan jejaring sosial sudah menjadi kebutuhan hingga kadang seseorang merasa cemas, kesepian jika tidak menggunakan smartphone mereka keadaan ini dinamakan dengan Nomophobia (no mobile phone phobia), yakni merasa cemas dan takut kalau tidak bisa menggunakan ponsel, entah karena kehabisan baterai, kehabisan pulsa, atau tidak ada sinyal.
Sangat mengkhawatirkan jika memang keadaan ini mulai muncul pada setiap individu, selain itu berdasarkan hasil observasi kelompok bahwa kami melihat perilaku kurangnya bersosialisasi antar individu ketika mereka asik dengan gadget atau smartphone mereka masing-masing. Mereka cenderung asik dengan smartphone dibandingkan berkomunikasi langsung dengan orang-orang disekitar mereka yang sebenarnya lebih nyata atau tampak. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan beberapa orang mereka sering mengecek smartphone mereka baik untuk melihat akun jejaring sosial mereka, update status ataupun sekedar mengecek keadaan smartphone mereka bahkan ketika bangun tidur hal yang pertama kali dilakukan adalah melihat smartphone mereka. Hal ini yang membuat banyak orang akhir-akhir ini lebih nyaman dengan smartphone mereka daripada mereka harus berkomunikasi dengan orang-orang disekitar mereka. Ada ungkapan bahwa smartphone “ menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh”, pada kenyataanya ungkapan ini memang cocok untuk menggambarkan keadaan saat ini. Jika dilihat dari perspektif kesehatan mental perilaku tersebut cukup menyimpang dari konsep kesehatan mental yaitu bahwa individu mampu memiliki hubungan sosial yang baik atau tidak terganggu terlebih jika perilaku pemakaian smartphone tersebut sudah menjadi kecanduan dan sangat mengganggu individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Menurut Lance Dodes dalam bukunya yang berjudul “The heart of Addiction” ada dua jenis kecanduan, yaitu  Physical addiction, yaitu jenis kecanduan yang berhubungan dengan alkohol atau kokain, dan Nonphysical addiction, yaitu jenis kecanduan yang tidak melibatkan dua hal di atas (alcohol dan kokain), contohnya kecanduan game onlinesocial mediagadget, dll.
Yuwanto (2010) dalam penelitiannya mengenai mobile phone addict mengemukakan beberapa faktor penyebab kecanduan telepon genggam yaitu :

     Faktor internal
Faktor ini terdiri atas faktor-faktor yang menggambarkan karakteristik individu. Pertama, tingkat sensation seeking yang tinggi, individu yang memiliki tingkat sensation seeking yang tinggi cenderung lebih mudah mengalami kebosanan dalam aktivitas yang sifatnya rutin. Kedua, self-esteem yang rendah, individu dengan self esteem rendah menilai negatif dirinya dan cenderung merasa tidak aman saat berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Menggunakan telepon genggam akan membuat merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Ketiga, kepribadian ekstraversi yang tinggi. Keempat, kontrol diri yang rendah, kebiasaan menggunakan telepon genggam yang tinggi, dan kesenangan pribadi yang tinggi dapat menjadi prediksi kerentanan individu mengalami kecanduan telepon genggam.

      Faktor situasional
Faktor ini terdiri atas faktor-faktor penyebab yang mengarah pada penggunaan telepon genggam sebagai sarana membuat individu merasa nyaman secara psikologis ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman, seperti pada saat stres, mengalami kesedihan, merasa kesepian, mengalami kecemasan, mengalami kejenuhan belajar, dan leisure boredom (tidak adanya kegiatan saat waktu luang) dapat menjadi penyebab kecanduan telepon genggam. 

      Faktor sosial
Terdiri atas faktor penyebab kecanduan telepon genggam sebagai sarana berinteraksi dan menjaga kontak dengan orang lain. Faktor ini terdiri atas mandatory behavior dan connected presence yang tinggi. Mandatory behavior mengarah pada perilaku yang harus dilakukan untuk memuaskan kebutuhan berinteraksi yang distimulasi atau didorong dari orang lain. Connected presence lebih didasarkan pada perilaku berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari dalam diri.

Faktor eksternal
Yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ini terkait dengan tingginya paparan media tentang telepon genggam dan berbagai fasilitasnya.
Sedangkan menurut Mark, Murray, Evans, & Willig (2004) kecanduan disebabkan karena adanya keinginan yang kuat untuk selalu terlibat dalam perilaku tertentu, terutama ketika kesempatan untuk perilaku tertentu tidak dapat dilakukan; adanya kegagalan dalam melakukan kontrol terhadap perilaku, individu merasakan ketidaknyamanan dan stress ketika perilaku ditunda atau dihentikan; terjadinya perilaku terus menerus walaupun telah ada fakta yang jelas.

Adapun kecanduan telepon genggam ini mengakibatkan beberapa dampak menurut Yuwanto (2010) antara lain : a. konsumtif, penggunaan telepon genggam dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan penyedia jasa layanan telepon genggam (operator) sehingga membuat individu harus mengeluarkan biaya untuk memanfaatkan fasilitas yang digunakan; b. Psikologis, individu merasa tidak nyaman atau gelisah ketika tidak menggunakan atau tidak membawa telepon genggam; c. Fisik, terjadi gangguan seperti gangguan atau pola tidur yang berubah; d. Relasi sosial, berkurangnya kontak fisik secara langsung dengan orang lain; e. Akademis/pekerjaan, berkurangnya waktu untuk mengerjakan sesuatu yang penting dengan kata lain berkurangnya produktivitas sehingga mengganggu akademis atau pekerjaan; fHukum, keinginan untuk menggunakan telepon genggam yang tidak terkontrol menyebabkan menggunakan telepon genggam saat mengemudi dan membahayakan bagi diri sendiri dan pengendara lain.

Salah satu dampak dari kecanduan gadget ini juga adalah seseorang bisa menjadi nomophobia. Menurut Wikipedia, Nomofobia (bahasa InggrisNomophobiano-mobile-phone phobia) adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak mempunyai telepon genggam (atau akses ke telepon genggam). Istilah ini pertama kali muncul dalam suatu penelitian tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov yang meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam. Studi tersebut menemukan bahwa 58% pria dan 47% wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman ketika mereka "kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan", dan 9% selebihnya merasa stres ketika telepon genggam mereka mati. Separuh di antara mereka mengatakan bahwa mereka gelisah karena tidak dapat berhubungan dengan teman atau keluarga mereka jika mereka tidak menggunakan telepon genggam mereka..
Lebih dari separuh orang yang terindikasi sebagai nomofobia tidak pernah mematikan telepon genggam mereka.

Jadi kesimpulannya, berdasarkan fenomena yang ada dan berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dengan maraknya penggunaan gadget dalam kalangan masyarakat, hal ini membawa dampak negatif dan kehidupan bersosial. Dampak yang paling terlihat adalah kurangnya interaksi individu dengan individu lain sehingga hal ini bisa berdampak pada turunnya rasa simpati bahkan empati terhadap orang lain. 

 Apakah Anda salah satu orang yang mengalami nomophobia?
Jika iya, maka perhatikan kembali sekeliling Anda, masih banyak hal menarik lainnya yang bisa Anda kerjakan selain "asyik sendiri dengan gadget".
Cause seeing with the eyes of each other, listening with the ears of each other, and feeling with the heart of each other are better than playing with your phone.

(Ini ada salah satu link video yang menjelaskan perbedaan jaman dulu dan jaman sekarang, check this out, guys: https://youtu.be/e9qk0YzymLU)











 DAFTAR PUSTAKA
Ahmad. 2014. Statistik: Internet, Sosial Media dan Mobile di Indonesia 2014. http://bebmen.com/4027/statistik-internet-sosial-media-dan-mobile-di-indonesia.html
Dodes, Lonce. 2002. The Heart of AddictionNew York: Harper Collins.

Soetjipto, HellyP..2005. Jurnal Psikologi Volume 32, No. 2, 74-91, Pengujian Validitas Konstruk Kriteria Kecanduan Internet.Yogjakarta :FakultasPsikologi UGM.

Yuwanto, Listyo (2010). Mobile Phone Addict.Surabaya : Putra Media Nusantara.
____. ___. Pengertian Gadgethttp://www.termasmedia.com/65-pengertian/70-pengertian-gadget.html
_____. 2013. Kominfo :Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker
____. ___. Dampak Positif dan Negatif dari Penggunaan Telepon Seluler. http://ptkomunikasi.wordpress.com/2012/04/16/dampak-positif-dan-negatif-dari-penggunaan-telepon-seluler-2/











Jumat, 11 Agustus 2017

Kampung Blogger Magelang

Sebelum ini saya dan teman-teman sekelas saya bersama dua dosen kami berkunjung ke Magelang,
di suatu tempat yang bernama kampung Blogger.
Dari segi bangunan, suasana, tidak ada yang membedakan kampung ini dengan kampung lainnya.
Tetapi, dari segi kreativitas dan pendapatan, kampung ini memiliki keunikan tersendiri dibanding kampung lainnya.
Kampung Blogger ini awalnya didirikan oleh Sumbodo Malik pada tahun 2010.
Sumbodo Malik mengawali kampung blogger ini dengan mengajak para tetangga dan warga sekitarnya untuk berbisnin online dengna menggunakan blog.
Tidak hanya mengajar warga sekitar, mereka juga mengajar banyak orang dari berbagai penjuru dengan sistem online. Hingga saat ini murid mereka sudah mengcapai sekitar 3000 orang.
Mereka sendiri memiliki 2 sistem "kumpul-kumpu", yaitu Among Blog, yang mana Among Blog ini adalah wadah mereka untuk mengajar cara mendapatkan uang dari berbisnis online, dan juga kampung blogger, yaitu masyarakatnya di sekitar.

Kamis, 10 Agustus 2017

Viaggio a Bali

Hai teman..
Kali ini saya ingin membagikan beberapa pengalaman pribadi yang saya lalui ketika pergi ke Bali pada bulan Juni lalu untuk melaksanakan study visit pada beberapa tempat yang menarik.
Perjalanan kali ini cukup spesial, karena ini merupakan kali pertama saya ke pulau Bali, dan menggunakan transportasi darat dan laut (untuk penyeberangan).
Karena kami berangkat dengan bus, maka perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 hari lamanya (sudah termasuk perjalanan pergi-pulang dan kegiatan selama di Bali).
Banyak tempat yang kami kunjungi, baik untuk belajar, maupun untuk sekedar "cuci mata" melihat-lihat pemandangan atau berbelanja.
Yang menarik perhatian saya adalah ketika pergi ke salah satu Yayasan yang merupakan Panti Werdha.
Pada saat kunjungan inipun kami diajarkan cara memanggil kakek dan nenek dalam bahasa Bali, yaitu peka untuk kakek, sedangkan untuk nenek adalah odah.
Pada kunjungan kali ini, para Peka dan Odah menampilkan beberapa pertunjukkan, seperti menari dan menyanyi. Tidak sedikit dari mereka yang menawarkan diri untuk menyanyi atau menceritakan beberapa kisah dongeng daerah.
Di akhir perkunjungan, kami diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah seorang Odah.
Beliau bercerita bahwa beliau berasal dari Bali, tetapi bukan dari Kuta. Beliau mengatakan alasan beliau tinggal di Panti karena anak-anak beliau sibuk bekerja.
Uniknya, pengurus yayasan mengizinkan para Peka dan Odah untuk tetap melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka (dalam hal ini kerajinan tangan) dan menghasilkan sebuah barang yang bisa dijual kepada para pengunjung yang datang ke tempat itu.
Menariknya, meskipun ada juga yang memiliki skill lain selain membuat sapu lidi dan tempat sesajen, kebanyakan dari mereka hanya membuat barang yang sama yaitu sapu lidi dan tempat sesajen.
Menurut pendapat saya, perlunya peningkatan skill baru (setidaknya) untuk membuat para lansia ini menjadi lebih produktif dan memiliki pengalaman baru di usia senja.