Komunikasi
merupakan hal yang tidak bisa terpisah dalam kehidupan manusia sejak zaman
dahulu kala. Komunikasi akan memudahkan manusia untuk berinteraksi dengan
orang-orang yang ada disekitarnya. Sehingga, manusia menciptakan alat-alat
untuk membantu manusia itu melakukan komunikasi secara lebih mudah. Pada
awalnya alat komunikasi masih sangat jarang ditemui dan juga kurang efektif
dalam penggunaannya namun sekarang ini alat komunikasi sangat beragam mulai
dari telepon baik telepon genggam (HP) atau telepon kabel, surat, email, fax,
dan masih banyak lagi tetapi bila diamati akhir-akhir ini alat komunikasi
elektronik yang sangat digemari oleh seluruh kalangan masyarakat adalah handphone dan
lebih spesifik lagi yaitu smartphone. Smartphone ini
merupakan salah satu jenis gadget yang sangat digemari oleh
masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia. Selain praktis untuk dibawa juga
bisa dipakai kapanpun dan dimanapun dan juga memang sangat membantu dalam
berkomunikasi. Informasi dari dalam negeri dan luar negeri juga lebih mudah
diakses menggunakan gadget ini. Keadaan ini bahkan telah
menjadi tren disemua kalangan mulai dari anak-anak hingga lansia, dengan
hadirnya smartphone ini pengguna serasa lebih dimudahkan untuk
berhubungan dengan rekan yang berada jauh dari mereka karena adanya aplikasi
jejaring sosial yang sangat beragam.
Terdapat
data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pengguna
internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95
persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial, situs jejaring
sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter.
Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar
setelah USA, Brazil, dan India. Sedangkan data dari statistik perkembangan
internet di Indonesia mencapai 15% atau 38,191,873 pengguna internet dari total
populasi kita 251,160,124, Sedang pengguna internet
dengan menggunakan mobile/smartphone mencapai 14% dari populasi,
lalu berdasarkan data statistik indikator pengguna internet di Indonesia,
rata-rata waktu yang dibutuhkan pengguna internet mengakses informasi melalui PC
atau laptop kisaran 5 jam 30 menit setiap harinya, persentase pengguna internet
melalui mobile atau smartphone 14% dari total
populasi. Sedangkan rata-rata waktu yang dihabiskan oleh pengguna internet
melalui mobile atau smartphone di Indonesia
sekitar 2 jam 30 menit setiap harinya. Dari data di atas dapat dilihat
bahwa smartphone dan jejaring sosial sudah menjadi kebutuhan
hingga kadang seseorang merasa cemas, kesepian jika tidak menggunakan smartphone mereka
keadaan ini dinamakan dengan Nomophobia (no mobile
phone phobia), yakni merasa cemas dan takut kalau tidak bisa menggunakan
ponsel, entah karena kehabisan baterai, kehabisan pulsa, atau tidak ada sinyal.
Sangat
mengkhawatirkan jika memang keadaan ini mulai muncul pada setiap individu,
selain itu berdasarkan hasil observasi kelompok bahwa kami melihat perilaku
kurangnya bersosialisasi antar individu ketika mereka asik dengan gadget atau smartphone mereka
masing-masing. Mereka cenderung asik dengan smartphone dibandingkan
berkomunikasi langsung dengan orang-orang disekitar mereka yang sebenarnya
lebih nyata atau tampak. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan beberapa orang
mereka sering mengecek smartphone mereka baik untuk melihat
akun jejaring sosial mereka, update status ataupun sekedar mengecek keadaan smartphone mereka
bahkan ketika bangun tidur hal yang pertama kali dilakukan adalah melihat smartphone mereka.
Hal ini yang membuat banyak orang akhir-akhir ini lebih nyaman dengan smartphone mereka
daripada mereka harus berkomunikasi dengan orang-orang disekitar mereka. Ada
ungkapan bahwa smartphone “ menjauhkan yang dekat dan
mendekatkan yang jauh”, pada kenyataanya ungkapan ini memang cocok untuk
menggambarkan keadaan saat ini. Jika dilihat dari perspektif kesehatan mental
perilaku tersebut cukup menyimpang dari konsep kesehatan mental yaitu bahwa
individu mampu memiliki hubungan sosial yang baik atau tidak terganggu terlebih
jika perilaku pemakaian smartphone tersebut sudah menjadi
kecanduan dan sangat mengganggu individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Menurut Lance Dodes dalam
bukunya yang berjudul “The heart of Addiction” ada dua jenis
kecanduan, yaitu Physical addiction, yaitu jenis kecanduan
yang berhubungan dengan alkohol atau kokain, dan Nonphysical
addiction, yaitu jenis kecanduan yang tidak melibatkan dua hal di atas
(alcohol dan kokain), contohnya kecanduan game online, social
media, gadget, dll.
Yuwanto (2010) dalam
penelitiannya mengenai mobile phone addict mengemukakan beberapa
faktor penyebab kecanduan telepon genggam yaitu :
Faktor
internal
Faktor ini terdiri atas
faktor-faktor yang menggambarkan karakteristik individu. Pertama, tingkat sensation
seeking yang tinggi, individu yang memiliki tingkat sensation
seeking yang tinggi cenderung lebih mudah mengalami kebosanan dalam
aktivitas yang sifatnya rutin. Kedua, self-esteem yang rendah,
individu dengan self esteem rendah menilai negatif dirinya dan
cenderung merasa tidak aman saat berinteraksi secara langsung dengan orang
lain. Menggunakan telepon genggam akan membuat merasa nyaman saat berinteraksi
dengan orang lain. Ketiga, kepribadian ekstraversi yang tinggi. Keempat,
kontrol diri yang rendah, kebiasaan menggunakan telepon genggam yang tinggi,
dan kesenangan pribadi yang tinggi dapat menjadi prediksi kerentanan individu
mengalami kecanduan telepon genggam.
Faktor
situasional
Faktor ini terdiri atas
faktor-faktor penyebab yang mengarah pada penggunaan telepon genggam sebagai
sarana membuat individu merasa nyaman secara psikologis ketika menghadapi
situasi yang tidak nyaman, seperti pada saat stres, mengalami kesedihan, merasa
kesepian, mengalami kecemasan, mengalami kejenuhan belajar, dan leisure
boredom (tidak adanya kegiatan saat waktu luang) dapat menjadi
penyebab kecanduan telepon genggam.
Faktor
sosial
Terdiri atas faktor
penyebab kecanduan telepon genggam sebagai sarana berinteraksi dan menjaga
kontak dengan orang lain. Faktor ini terdiri atas mandatory
behavior dan connected presence yang tinggi. Mandatory
behavior mengarah pada perilaku yang harus dilakukan untuk memuaskan
kebutuhan berinteraksi yang distimulasi atau didorong dari orang lain. Connected
presence lebih didasarkan pada perilaku berinteraksi dengan orang lain
yang berasal dari dalam diri.
Faktor
eksternal
Yaitu faktor yang berasal
dari luar diri individu. Faktor ini terkait dengan tingginya paparan media
tentang telepon genggam dan berbagai fasilitasnya.
Sedangkan menurut Mark, Murray, Evans, &
Willig (2004) kecanduan disebabkan karena adanya
keinginan yang kuat untuk selalu terlibat dalam perilaku tertentu, terutama
ketika kesempatan untuk perilaku tertentu tidak dapat dilakukan; adanya
kegagalan dalam melakukan kontrol terhadap perilaku, individu merasakan ketidaknyamanan
dan stress ketika perilaku ditunda atau dihentikan; terjadinya
perilaku terus menerus walaupun telah ada fakta yang jelas.
Adapun kecanduan telepon
genggam ini mengakibatkan beberapa dampak menurut Yuwanto (2010) antara lain : a. konsumtif,
penggunaan telepon genggam dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan penyedia
jasa layanan telepon genggam (operator) sehingga membuat individu harus
mengeluarkan biaya untuk memanfaatkan fasilitas yang digunakan; b. Psikologis,
individu merasa tidak nyaman atau gelisah ketika tidak menggunakan atau tidak
membawa telepon genggam; c. Fisik,
terjadi gangguan seperti gangguan atau pola tidur yang berubah; d. Relasi
sosial, berkurangnya kontak fisik secara langsung dengan orang lain; e. Akademis/pekerjaan,
berkurangnya waktu untuk mengerjakan sesuatu yang penting dengan kata lain
berkurangnya produktivitas sehingga mengganggu akademis atau pekerjaan; fHukum,
keinginan untuk menggunakan telepon genggam yang tidak terkontrol menyebabkan
menggunakan telepon genggam saat mengemudi dan membahayakan bagi diri sendiri
dan pengendara lain.
Salah satu dampak dari kecanduan gadget ini
juga adalah seseorang bisa menjadi nomophobia. Menurut Wikipedia, Nomofobia (bahasa Inggris: Nomophobia, no-mobile-phone phobia)
adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak mempunyai telepon genggam (atau
akses ke telepon genggam). Istilah ini pertama kali muncul dalam suatu
penelitian tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov yang meneliti
tentang kegelisahan yang
dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam. Studi tersebut menemukan
bahwa 58% pria dan 47% wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung
merasa tidak nyaman ketika mereka "kehilangan telepon genggam, kehabisan
baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan", dan 9% selebihnya
merasa stres ketika telepon genggam mereka mati. Separuh di antara mereka
mengatakan bahwa mereka gelisah karena tidak dapat berhubungan dengan teman
atau keluarga mereka jika mereka tidak menggunakan telepon genggam mereka..
Lebih dari separuh
orang yang terindikasi sebagai nomofobia tidak pernah mematikan telepon genggam
mereka.
Jadi kesimpulannya, berdasarkan fenomena yang
ada dan berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dengan maraknya
penggunaan gadget dalam kalangan masyarakat, hal ini membawa
dampak negatif dan kehidupan bersosial. Dampak yang paling terlihat adalah
kurangnya interaksi individu dengan individu lain sehingga hal ini bisa
berdampak pada turunnya rasa simpati bahkan empati terhadap orang lain.
Apakah Anda salah satu orang yang mengalami nomophobia?
Jika iya, maka perhatikan kembali sekeliling Anda, masih banyak
hal menarik lainnya yang bisa Anda kerjakan selain "asyik sendiri
dengan gadget".
Cause seeing with the eyes of each other, listening with the
ears of each other, and feeling with the heart of each other are better than
playing with your phone.
(Ini ada salah satu link video yang menjelaskan perbedaan jaman
dulu dan jaman sekarang, check this out, guys: https://youtu.be/e9qk0YzymLU)
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad.
2014. Statistik: Internet, Sosial Media dan Mobile di Indonesia 2014. http://bebmen.com/4027/statistik-internet-sosial-media-dan-mobile-di-indonesia.html
Dodes, Lonce. 2002. The Heart of Addiction. New
York: Harper Collins.
Soetjipto, HellyP..2005. Jurnal Psikologi Volume 32, No. 2,
74-91, Pengujian Validitas Konstruk Kriteria Kecanduan Internet.Yogjakarta
:FakultasPsikologi UGM.
Yuwanto, Listyo (2010). Mobile Phone Addict.Surabaya :
Putra Media Nusantara.
____. ___. Pengertian Gadget. http://www.termasmedia.com/65-pengertian/70-pengertian-gadget.html
_____.
2013. Kominfo :Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta
Orang. http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker
____.
___. Dampak Positif dan Negatif dari Penggunaan Telepon
Seluler. http://ptkomunikasi.wordpress.com/2012/04/16/dampak-positif-dan-negatif-dari-penggunaan-telepon-seluler-2/