Hai teman..
Kali ini saya ingin membagikan beberapa pengalaman pribadi yang saya lalui ketika pergi ke Bali pada bulan Juni lalu untuk melaksanakan study visit pada beberapa tempat yang menarik.
Perjalanan kali ini cukup spesial, karena ini merupakan kali pertama saya ke pulau Bali, dan menggunakan transportasi darat dan laut (untuk penyeberangan).
Karena kami berangkat dengan bus, maka perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 hari lamanya (sudah termasuk perjalanan pergi-pulang dan kegiatan selama di Bali).
Perjalanan kali ini cukup spesial, karena ini merupakan kali pertama saya ke pulau Bali, dan menggunakan transportasi darat dan laut (untuk penyeberangan).
Karena kami berangkat dengan bus, maka perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 hari lamanya (sudah termasuk perjalanan pergi-pulang dan kegiatan selama di Bali).
Banyak tempat yang kami kunjungi, baik untuk belajar, maupun untuk sekedar "cuci mata" melihat-lihat pemandangan atau berbelanja.
Yang menarik perhatian saya adalah ketika pergi ke salah satu Yayasan yang merupakan Panti Werdha.
Pada saat kunjungan inipun kami diajarkan cara memanggil kakek dan nenek dalam bahasa Bali, yaitu peka untuk kakek, sedangkan untuk nenek adalah odah.
Pada kunjungan kali ini, para Peka dan Odah menampilkan beberapa pertunjukkan, seperti menari dan menyanyi. Tidak sedikit dari mereka yang menawarkan diri untuk menyanyi atau menceritakan beberapa kisah dongeng daerah.
Di akhir perkunjungan, kami diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah seorang Odah.
Beliau bercerita bahwa beliau berasal dari Bali, tetapi bukan dari Kuta. Beliau mengatakan alasan beliau tinggal di Panti karena anak-anak beliau sibuk bekerja.
Uniknya, pengurus yayasan mengizinkan para Peka dan Odah untuk tetap melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka (dalam hal ini kerajinan tangan) dan menghasilkan sebuah barang yang bisa dijual kepada para pengunjung yang datang ke tempat itu.
Menariknya, meskipun ada juga yang memiliki skill lain selain membuat sapu lidi dan tempat sesajen, kebanyakan dari mereka hanya membuat barang yang sama yaitu sapu lidi dan tempat sesajen.
Menurut pendapat saya, perlunya peningkatan skill baru (setidaknya) untuk membuat para lansia ini menjadi lebih produktif dan memiliki pengalaman baru di usia senja.
Pada kunjungan kali ini, para Peka dan Odah menampilkan beberapa pertunjukkan, seperti menari dan menyanyi. Tidak sedikit dari mereka yang menawarkan diri untuk menyanyi atau menceritakan beberapa kisah dongeng daerah.
Di akhir perkunjungan, kami diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah seorang Odah.
Beliau bercerita bahwa beliau berasal dari Bali, tetapi bukan dari Kuta. Beliau mengatakan alasan beliau tinggal di Panti karena anak-anak beliau sibuk bekerja.
Uniknya, pengurus yayasan mengizinkan para Peka dan Odah untuk tetap melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka (dalam hal ini kerajinan tangan) dan menghasilkan sebuah barang yang bisa dijual kepada para pengunjung yang datang ke tempat itu.
Menariknya, meskipun ada juga yang memiliki skill lain selain membuat sapu lidi dan tempat sesajen, kebanyakan dari mereka hanya membuat barang yang sama yaitu sapu lidi dan tempat sesajen.
Menurut pendapat saya, perlunya peningkatan skill baru (setidaknya) untuk membuat para lansia ini menjadi lebih produktif dan memiliki pengalaman baru di usia senja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar