Senin, 15 Juni 2015

KASIH CUMA-CUMA




Hampir sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 01&02 Juni 2015, saya bersama salah seorang teman saya diutus oleh Sahabat Jiwa untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh Messenjah Clothing di Jogjakarta. Awalnya kami berdua sama sekali tidak mengetahui secara jelas acara seperti apa yang akan kami hadiri.
Sebelumnya, beberapa hari sebelum berangkat, kami para lurah (sebutan untuk koordinator divisi di Sahabat Jiwa) dihubungi untuk mengetahui siapa saja yang ingin mengikuti acara tersebut. Beberapa orang bersedia, termasuk saya. Akhirnya setelah diskusi yang panjang, maka kami memutuskan untuk mengutus 2 delegasi dari Sahabat Jiwa, di luar dari para lurah. H-2, kami menghubungi para delegator untuk menyampaikan bahwa mereka terpilih sebagai wakil Sahabat Jiwa dalam kegiatan yang diadakan oleh Messenjah Clothing. Singkat cerita, salah satu delegator tidak bisa berangkat, dan akhirnya saya menggantikannya.
Senin, 01 Juni 2015, dalam perjalanan berangkat ke Jogja, banyak hal yang kami alami, mulai dari ketinggalan barang, kehujanan (sampai harus menggunakan pakaian yang basah tersebut seharian sampai jam 12 malam), dll. Tapi, tidak tahu kenapa, saya tidak mengeluh dengan apa yang kami alami.
Setiba di Jogja, saya ketemu dengan salah seorang kakak yang kebetulan sudah pernah bertemu dengan saya sebelumnya, sehingga mulai mengobrol dan beberapa saat setelah itu juga kami baru tahu kalau acaranya berlangsung selama beberapa hari, sedangkan persiapan kami cuma cukup untuk 1,5 hari, dan kami juga baru tahu kalau kegiatannya adalah Workshop.
Sesi langsung dimulai pada hari itu juga, jam setengah 7 malam, setelah makan malam.
Kami mulai dengan perkenalan nama dan asal masing-masing secara singkat. Pembicara pada saat itu adalah seorang pengacara dari Malaysia yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya untuk menjadi Penginjil di seluruh dunia.
Banyak hal yang saya dapat ketika mengikuti workshop itu. Jujur memang waktu mengikuti sesi pada malam pertama saya sangat tidak bisa menahan rasa kantuk saya. Tapi saya mencoba untuk fokus, agar tidak kehilangan arah pembicaraan.
Dari beberapa sesi yang saya ikuti saya menemukan beberapa hal, mulai dari bagaimana kehidupan Indonesia sekarang, bagaimana sifat khas Indonesia, bagaimana kita harus menyikapinya, apa yang kita perlukan dalam menyikapi hal tersebut, dan lain-lain.
Saya juga dibawa dalam perenungan bahwa selama ini kita sering berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu sudah maksimal (menurut ukuran kita, bukan Tuhan) dan seringkali kita melakukan segala sesuatu itu untuk memuaskan diri kita atas passion kita. Memiliki passion bukanlah suatu masalah, tapi yang menjadi masalah ketika kita hanya puas ketika passion kita terpenuhi. Jadi begini, passion terpenuhi berarti kita memuaskan diri kita sendiri, bukan memuaskan Tuhan, right?
Seringkali kita terlalu fokus untuk mengejar apa yang menjadi keinginan daging, bukan keinginan roh, memuaskan diri sendiri tanpa berpikir apakah hal tersebut sudah memuaskan hati Tuhan.

Memuaskan hati Tuhan sudah menjadi kewajiban kita. Karena apa? Karena dengan cara tersebut, pengorbanan Yesus di kayu salib tidak sia-sia. Kematian Yesus di kayu salib adalah untuk memberikan kita keselamatan.Karena kematian Yesus di kayu salib merupakan hadiah sekaligus hutang untuk kita. Hutang yang harus kita bayar. Bagaimana kita membayarnya? Dengan memiliki hati seperti Allah.

Apabila hal itu terlaksana, maka pertanyaan "apa alasan Tuhan menciptakan kita?" akan terjawab.
Allah menciptakan kita dengan tujuan agar kita menjadi segambar dan serupa denganNya (Kej. 1:26-27). Bagaimana kita menjadi segambar dan serupa denganNya? Jawabannya: miliki hati sepertiNya.

Pada sesi di hari kedua, kami diberikan banyak perumpamaan dan juga kesaksian. Salah satunya kesaksian mimpi Joe Ozawa (mentor bpk Engho) - Saya ingin menceritakan bagian ini
Dalam kisah itu diceritakan bahwa Joe Ozawa bermimpi (atau mungkin suatu penglihatan) bahwa dirinya berada di surga dan berdiri di hadapan Allah. Kenapa dia tahu itu Allah? Karena dia tidak bisa melihat wajahNya, tapi rasanya dia seperti melihat matahari secara langsung. Sangat menyilaukan. Hanya saja, katanaya rasanya tidak seperti terbakar. Yang ada hanya rasa kasih dan kuasa yang sangat besar yang tidak dia pahami.
Dia jatuh berlutut dan mulai meminta maaf. Dia tidak tahu kenapa dia langsung meminta maaf, tapi dia pikir apabila itu benar Allah, sangat cerdas untuk memulai percakapan dengan permintaan maaf.
Dia kemudian mulai meminta maaf, mulai dari permintaan maaf karena tidak cukup banyak berdoa, tidak bisa mengontrol diet, tidak mengasihi istri secara sepenuhnya, dan dosa-dosa lain yang terpikirkan olehnya. Namun jawaban Tuhan, "Ya, itu sangat penting, tapi itu bukan yang terpenting".
 "Oh Tuhan, oh Tuhan, apa yang Kau inginkan dariku?" Joe bertanya, merengek seperti anak kecil yang manja. Dia membuat Joe frustasi! dia tidak dapat memahaniNya. Apa yang diingkanNya?
 "Ketika kamu hadir di hadapanKu di hari terakhir, Aku hanya mempunyai satu pertanyaan untukmu...."
SUDAHKAH KAMU BELAJAR MENERIMA KASIHKU?
Kemudian Dia berkata, "Sekarang ceritakan ini kepada dunia!"
.................................

Pada sesi itu, sebelum bpk Engho memberitahu apa pertanyaan yang diberikan Tuhan kepada Joe, beliau meminta kami menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan diberikan Tuhan pada hari penghakiman terakhir. Beragam tebakan pertanyaan terlontar dari mulut kami masing-masing, bahkan tak seorangpun bisa menebak pertanyaan seperti apa yang akan dilontarkan Tuhan. Sebelumnya beliau juga sudah mengatakan, selama dia berkeliling dunia dan menceritakan kesaksian ini, belum ada yang bisa menebak pertanyaan apa yang akan terlontar, sebelum dia membaca/mendengarkan kesaksian tersebut. 

Terkadang memang kita hanya fokus pada kerugian kita. Karena tidak jarang kita berpikir "kemana Tuhan?", "Tuhan gak mau nolong aku", "kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi kepadaku?", dan berbagai pertanyaan lain yang merugikan kita.
Tapi kita tidak pernah memikirkan bahwa kita sangatlah beruntung mendapatkan kasih cuma-cuma dariNya. Bukti dari kasih cuma-cumaNya yaitu dengan mengirimkan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa serta beroleh keselamatan. Kita hanya tinggal membuka hati kita dan tidak mengeraskannya untuk siap menerima kasih cuma-cuma tersebut. 

Saya bersyukur dengan pengalaman ini. Karena dari awal perjalanan berangkat sampai pulang banyak hal yang terjadi, tapi Dia selalu melindungi kami, sehingga bisa kembali ke Salatiga tanpa kekurangan, malah berlebihan. Belebihannya dengan bertambahnya beberapa ilmu yang didapat.

Pengalaman kali itu sangat berharga buat saya. Sayangnya saya tidak bisa ikut pada sesi tambahan pada  3&4 Juni 2015 karena keterbatasan waktu serta lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Selasa, 28 April 2015

Lustrum Sahabat Jiwa

Hari ini senang bisa kumpul bersama teman-teman komunitasku, Sahabat Jiwa. Sedikit cerita, komunitas kami ini adalah komunitas yang bergeraa dibidang anak-anak dalam hal pendampingan, pengajaran, dan training.
Dan hari ini (27 April 2015) bertepatan dengan ulang tahun ke-5 Sahabat Jiwa.
Saya sangat senang menjadi bagian dari keluarga Sahabat Jiwa.
Banyak hal yang saya dapatkan disini yang tidak pernah saya dapatkan sebelum ikut Sahabat Jiwa.
Selamat ulang tahun my homie, Sahabat Jiwa.
Teruslah menjadi dampak bagi orang lain dan yang pasti tetap ceria, sukacita, dan bersemangat.
Tuhan memberkati.

Senin, 13 April 2015

"Sudahkah Saya Melakukannya secara Maksimal?"



Pernahkah kita berpikir tentang hal berharga yang sudah kita hasilkan?
Seringkali kita berpikir tentang apa yang sudah kita lakukan, tetapi bukan apa yang sudah kita hasilkan. Memang kata orang, melihat sesuatu itu bukan dari hasilnya, tetapi prosesnya.
Dalam beberapa renungan diri saya membenarkannya. tetapi hasil akhir merupakan sebuah produksi dari proses, dimana ketika kita benar-benar mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati ketika dalam tahap proses, kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Mempunyai standar untuk mencapai sesuatu yang sempurna sebenarnya tidak masalah, tetapi yang menjadi masalah ketika pencapaian kita tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Ketika kita mengerjakan sesuatu dan mendapatkan hasil yang belum maksimal, silahkan bertanya kepada dirimu, "Sudahkah saya melakukannya secara maksimal?"
Jika memang kita telah bekerja secara maksimal, hasilnya serahkanlah kepada Tuhan, karena ketika ketika kita melakukan yang maksimal, kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Jumat, 03 April 2015

LIVE YOUR LIFE

Life is a journey!
Karena hidup banyak rasanya.
Ketika kita melewati perjalanan kehidupan, kita akan sering mendapati jalan kecil dan sempit. Namun percayalah, di sisi luar jalan tersebut ada hal-hal indah yang bisa kita temui. Hal indah itu nantinya yang akan membuat kita menikmati proses perjalanan tersebut.
So, LIVE YOUR LIFE AND DON'T SKIP THE PROCCESS.
Live, love, life.


Rabu, 25 Maret 2015

Ahok

http://news.detik.com/read/2015/03/25/181003/2869621/10/ahok-saya-anjingnya-jakarta-untuk-jaga-aset-warga-agar-tidak-dicuri

Minggu, 22 Maret 2015

UCAPKANLAH SYUKURMU

Saya mau share sedikit tentang pengalaman saya hari ini. Tapi sebelumnya saya mau cerita sedikit tentang komunitas saya, yang kira-kira karena komunitas ini saya bisa mendapat pengalaman berharga hari ini.
Saya merupakan salah satu anggota dari sebuah komunitas sosial di Salatiga yang bernama Sahabat Jiwa.
Komunitas kami ini dibentuk sekitar beberapa tahun yang lalu (4/5 thn yll, tepatnya saya lupa).
Komunitas ini dibentuk mula-mula karena kecintaan dari para founder komunitas kami ini terhadap anak-anak. Nah, berhubung yang menhadi founder komunitas ini adalah anak-anak Fakultas Psikologi di UKSW, maka mereka membuat sebuah aksi sosial berupa pendampingan terhadap anak.
Nah, singkat cerita. Sekarang kami sudah memiliki 4 divisi dalam komunitas kami yaitu divisi Puppet Show, Pencil's project, SaPuSaku, serta proyek baru Sahabat Baca (saya termasuk anggota disini).
Nah, kebetulan hari ini saya ikut bantu teman-teman di divisi Pencil's Project untuk mengajar. (FYI: divisi ini adalah divisi belajar kreatif yang diadakan di salah satu dusun di Salatiga). Hari ini kita bermain bersama adik-adik. Bedanya adalah hari ini kami kedatangan tamu dari TC (Trainer's Club) Fakultas Psikologi. Sehingga yang membawakan permainan adalah mereka.
Di akhir pertemuan, kakak-kakak TC membagikan makanan (makan besar, like nasi dkk) kepada semuanya, sehingga kita kiya bisa makan bersama.
Yang bikin saya heran adalah ketika makanan dibagi ada adik-adik yang cuma makan sedikit kemudian menutup kembali makanannya, bahlan ada yang tidak makan nasinya.
Awalnya saya tidak mau bertanya kepada mereka, tapi akhirnya saya menghampiri salah satu anak yang tidak makan.
Saya : "Dek, kok nasinya gak di makan?"
Adik : "Gak kak. Mau bawa pulang aja, biar makan bareng-bareng sama orang rumah."
*jedaaaaaar
(Tiba-tiba rasanya pengen nangis, tapi saya gak bisa nangis di depan mereka)
Hellooo... bayangkan!
Seorang anak kecil saja bisa berbagi dan memikirkan bagian orang lain, bagaimana dengan kita?
Hal ini yang membuat saya makin merenung tentang bagaimana kehidupan saya selama ini.
Mungkin kita sering mengeluh dengan apa yang kita miliki, tapi kita tidak pernah melihat orang di sekitar kita yang tetap bersyukur di dalam kekurangan diri mereka bahkan masih mengingat orang lain sejalipun mereka kesusahan.
So, mari sama-sama kita syukuri apa yang kita miliki, karena semua yang kita miliki ini hanya sesaat dan tidak abadi.
Sekian tulisan kali ini karena saya sudah mulai menitikan air mata.. haha

Minggu, 08 Februari 2015

HIDUP = PILIHAN



Kehidupan, suatu hal yang harus kita jalani. Menjalaninya dengan gembira atau tidak, pilihannya ada di tangan kita.
Kita tidak akan pernah tahu manis dan pahitnya hidup ini tanpa kita menjalani dan mengambil hikmah di dalamnya.
Tak jarang buaian lembut rintangan datang menyapa untuk membuyarkan kegembiraan kita dalam proses menjalani hidup, sehingga beberapa di antara kita menjadi terlena dalam buaian tersebut dan meninggalkan kegembiraannya. Nah, pada saat itulah, kita telah memilih untuk tidak lagi menjalani hidup secara gembira dan penuh sukacita.

Kehidupan tidak pernah menjanjikan kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan, kemarahan. Karena semua itu adalah ciptaan kita sendiri.
Kehidupan hanya menawarkan hidup itu sendiri dan pilihan : menjalaninya atau tidak.
Nikmatilah setiap proses yang ada, baik buruknya akan membentuk kepribadian dirimu.

Life is a choice! Selamat memilih.