Hampir sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 01&02 Juni 2015, saya bersama salah seorang teman saya diutus oleh Sahabat Jiwa untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh Messenjah Clothing di Jogjakarta. Awalnya kami berdua sama sekali tidak mengetahui secara jelas acara seperti apa yang akan kami hadiri.
Sebelumnya, beberapa hari sebelum berangkat, kami para lurah (sebutan untuk koordinator divisi di Sahabat Jiwa) dihubungi untuk mengetahui siapa saja yang ingin mengikuti acara tersebut. Beberapa orang bersedia, termasuk saya. Akhirnya setelah diskusi yang panjang, maka kami memutuskan untuk mengutus 2 delegasi dari Sahabat Jiwa, di luar dari para lurah. H-2, kami menghubungi para delegator untuk menyampaikan bahwa mereka terpilih sebagai wakil Sahabat Jiwa dalam kegiatan yang diadakan oleh Messenjah Clothing. Singkat cerita, salah satu delegator tidak bisa berangkat, dan akhirnya saya menggantikannya.
Senin, 01 Juni 2015, dalam perjalanan berangkat ke Jogja, banyak hal yang kami alami, mulai dari ketinggalan barang, kehujanan (sampai harus menggunakan pakaian yang basah tersebut seharian sampai jam 12 malam), dll. Tapi, tidak tahu kenapa, saya tidak mengeluh dengan apa yang kami alami.
Setiba di Jogja, saya ketemu dengan salah seorang kakak yang kebetulan sudah pernah bertemu dengan saya sebelumnya, sehingga mulai mengobrol dan beberapa saat setelah itu juga kami baru tahu kalau acaranya berlangsung selama beberapa hari, sedangkan persiapan kami cuma cukup untuk 1,5 hari, dan kami juga baru tahu kalau kegiatannya adalah Workshop.
Sesi langsung dimulai pada hari itu juga, jam setengah 7 malam, setelah makan malam.
Kami mulai dengan perkenalan nama dan asal masing-masing secara singkat. Pembicara pada saat itu adalah seorang pengacara dari Malaysia yang sudah berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya untuk menjadi Penginjil di seluruh dunia.
Banyak hal yang saya dapat ketika mengikuti workshop itu. Jujur memang waktu mengikuti sesi pada malam pertama saya sangat tidak bisa menahan rasa kantuk saya. Tapi saya mencoba untuk fokus, agar tidak kehilangan arah pembicaraan.
Dari beberapa sesi yang saya ikuti saya menemukan beberapa hal, mulai dari bagaimana kehidupan Indonesia sekarang, bagaimana sifat khas Indonesia, bagaimana kita harus menyikapinya, apa yang kita perlukan dalam menyikapi hal tersebut, dan lain-lain.
Saya juga dibawa dalam perenungan bahwa selama ini kita sering berpikir bahwa apa yang kita lakukan itu sudah maksimal (menurut ukuran kita, bukan Tuhan) dan seringkali kita melakukan segala sesuatu itu untuk memuaskan diri kita atas passion kita. Memiliki passion bukanlah suatu masalah, tapi yang menjadi masalah ketika kita hanya puas ketika passion kita terpenuhi. Jadi begini, passion terpenuhi berarti kita memuaskan diri kita sendiri, bukan memuaskan Tuhan, right?
Seringkali kita terlalu fokus untuk mengejar apa yang menjadi keinginan daging, bukan keinginan roh, memuaskan diri sendiri tanpa berpikir apakah hal tersebut sudah memuaskan hati Tuhan.
Memuaskan hati Tuhan sudah menjadi kewajiban kita. Karena apa? Karena dengan cara tersebut, pengorbanan Yesus di kayu salib tidak sia-sia. Kematian Yesus di kayu salib adalah untuk memberikan kita keselamatan.Karena kematian Yesus di kayu salib merupakan hadiah sekaligus hutang untuk kita. Hutang yang harus kita bayar. Bagaimana kita membayarnya? Dengan memiliki hati seperti Allah.
Apabila hal itu terlaksana, maka pertanyaan "apa alasan Tuhan menciptakan kita?" akan terjawab.
Allah menciptakan kita dengan tujuan agar kita menjadi segambar dan serupa denganNya (Kej. 1:26-27). Bagaimana kita menjadi segambar dan serupa denganNya? Jawabannya: miliki hati sepertiNya.
Pada sesi di hari kedua, kami diberikan banyak perumpamaan dan juga kesaksian. Salah satunya kesaksian mimpi Joe Ozawa (mentor bpk Engho) - Saya ingin menceritakan bagian ini
Dalam kisah itu diceritakan bahwa Joe Ozawa bermimpi (atau mungkin suatu penglihatan) bahwa dirinya berada di surga dan berdiri di hadapan Allah. Kenapa dia tahu itu Allah? Karena dia tidak bisa melihat wajahNya, tapi rasanya dia seperti melihat matahari secara langsung. Sangat menyilaukan. Hanya saja, katanaya rasanya tidak seperti terbakar. Yang ada hanya rasa kasih dan kuasa yang sangat besar yang tidak dia pahami.
Dia jatuh berlutut dan mulai meminta maaf. Dia tidak tahu kenapa dia langsung meminta maaf, tapi dia pikir apabila itu benar Allah, sangat cerdas untuk memulai percakapan dengan permintaan maaf.
Dia kemudian mulai meminta maaf, mulai dari permintaan maaf karena tidak cukup banyak berdoa, tidak bisa mengontrol diet, tidak mengasihi istri secara sepenuhnya, dan dosa-dosa lain yang terpikirkan olehnya. Namun jawaban Tuhan, "Ya, itu sangat penting, tapi itu bukan yang terpenting".
"Oh Tuhan, oh Tuhan, apa yang Kau inginkan dariku?" Joe bertanya, merengek seperti anak kecil yang manja. Dia membuat Joe frustasi! dia tidak dapat memahaniNya. Apa yang diingkanNya?
"Ketika kamu hadir di hadapanKu di hari terakhir, Aku hanya mempunyai satu pertanyaan untukmu...."
SUDAHKAH KAMU BELAJAR MENERIMA KASIHKU?
Kemudian Dia berkata, "Sekarang ceritakan ini kepada dunia!"
.................................
Pada sesi itu, sebelum bpk Engho memberitahu apa pertanyaan yang diberikan Tuhan kepada Joe, beliau meminta kami menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan diberikan Tuhan pada hari penghakiman terakhir. Beragam tebakan pertanyaan terlontar dari mulut kami masing-masing, bahkan tak seorangpun bisa menebak pertanyaan seperti apa yang akan dilontarkan Tuhan. Sebelumnya beliau juga sudah mengatakan, selama dia berkeliling dunia dan menceritakan kesaksian ini, belum ada yang bisa menebak pertanyaan apa yang akan terlontar, sebelum dia membaca/mendengarkan kesaksian tersebut.
Terkadang memang kita hanya fokus pada kerugian kita. Karena tidak jarang kita berpikir "kemana Tuhan?", "Tuhan gak mau nolong aku", "kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi kepadaku?", dan berbagai pertanyaan lain yang merugikan kita.
Tapi kita tidak pernah memikirkan bahwa kita sangatlah beruntung mendapatkan kasih cuma-cuma dariNya. Bukti dari kasih cuma-cumaNya yaitu dengan mengirimkan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa serta beroleh keselamatan. Kita hanya tinggal membuka hati kita dan tidak mengeraskannya untuk siap menerima kasih cuma-cuma tersebut.
Saya bersyukur dengan pengalaman ini. Karena dari awal perjalanan berangkat sampai pulang banyak hal yang terjadi, tapi Dia selalu melindungi kami, sehingga bisa kembali ke Salatiga tanpa kekurangan, malah berlebihan. Belebihannya dengan bertambahnya beberapa ilmu yang didapat.
Pengalaman kali itu sangat berharga buat saya. Sayangnya saya tidak bisa ikut pada sesi tambahan pada 3&4 Juni 2015 karena keterbatasan waktu serta lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar